Tenaga Pendamping Profesional... Bangun Desa Bangun Indonesia... Desa Terdepan Untuk Indonesia

Rabu, 16 September 2026

MEMBUAT ARTIKEL JURNALISTIK: 5W-1H Pedoman Untuk Memberitakan Aktifitas Pendampingan Desa


 Artikel yang baik tidak sekadar menceritakan bahwa suatu kegiatan telah dilaksanakan, tetapi mampu menjelaskan apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan dan di mana berlangsung, mengapa kegiatan tersebut penting, serta bagaimana proses dan dampaknya
Oleh: Wahyu Hananto Pribadi 
 
 
TENAGA Pendamping Profesional dan aktifitas pemberitaan adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Keduanya memiliki keterkaitan yang erat satu sama lain dalam upaya mensukseskan perencanaan dan pembangunan di Desa. Pendamping Desa yang merupakan bagian dari TPP berkepentingan untuk mensiarkan kerja-kerja pendampingan tidak sekedar sebagai bukti laporan yang transparan dan akuntabel dalam menunaikan tugas dan fungsinya namun sebagai cara efisien untuk menularkan pengalaman baiknya kepada teman sejawat dan untuk diketahui masyarakat luas pada umumnya. Hal ini mengingat komposisi jumlah Pendamping Desa yang belum optimal berbanding dengan jumlah desa-desa yang ada di Indonesia, terutama pemberitaan sangat dibutuhkan untuk desa-desa terluar terdepan jauh dari keramaian. 

Pemberitaan melalui majalah online dan sosial media solusi praktis murah yang dapat dipergunakan saat ini. Oleh karena pengetahuan tentang cara penulisan jurnalistik yang standart dan mampu mengantarkan pesan yang selama ini dipelajari oleh para jurnalis harus merupakan dasar pengetahuan yang dimiliki seluruh TPP di semua level jenjang.

Pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa menghasilkan berbagai kegiatan, inovasi, perubahan, serta praktik baik yang memiliki nilai informasi dan pembelajaran. Namun, berbagai capaian tersebut tidak akan memberikan manfaat yang luas apabila hanya berhenti sebagai kegiatan di lapangan tanpa didokumentasikan, dituliskan, dan disebarluaskan.

Pendamping Desa memiliki posisi strategis dalam mendokumentasikan proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Interaksi langsung dengan pemerintah desa, masyarakat, kelompok masyarakat, pelaku usaha desa, serta berbagai pemangku kepentingan memberikan kesempatan untuk menemukan berbagai fakta dan cerita yang memiliki nilai jurnalistik.

Penulisan artikel jurnalistik menjadi salah satu instrumen komunikasi untuk mengubah fakta lapangan menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat. Artikel yang baik tidak sekadar menceritakan bahwa suatu kegiatan telah dilaksanakan, tetapi mampu menjelaskan apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan dan di mana berlangsung, mengapa kegiatan tersebut penting, serta bagaimana proses dan dampaknya.

Dalam Penulisan Artikel Berita kita mengenal 5W 1H. Prinsip penulisan 5W 1H pertama kali diperkenalkan oleh penulis asal Inggris, Rudyard Kipling, melalui puisi pendeknya yang berjudul "The Elephant's Child" pada tahun 1902

Enam pertanyaan dasar tersebut dikenal sebagai prinsip 5W + 1H:

- What                  — Apa yang terjadi?

- Who                    — Siapa yang terlibat?

- When                 — Kapan terjadi?

- Where                — Di mana terjadi?

- Why                    — Mengapa terjadi atau mengapa penting?

- How                    — Bagaimana prosesnya?

Prinsip 5W + 1H menjadi kerangka dasar agar tulisan memiliki informasi yang lengkap, logis, faktual, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Di infografis awal tulisan ini kami tampilkan ringkasan penggunaan Prinsip 5W-1H yang mudah dipelajari dan disimpan di handphone sehingga tidak melupakan prinsip penulisan jurnalistik. 

Kalau telah memahami prinsi penulisan terdapat beberapa hal yang harus dihindari dalam penulisan pemberitaan, diantaranya; membuat/ merekayasa fakta, membesar-besarkan keberhasilan, judul clickbait, informasi tanpa sumber, kutipan yang direkayasa, angka tanpa sumber, penggunaan foto yang tidak sesuai, paragraf terlalu panjang, bahasa birokratis yang sulit dipahami, mencampurkan fakta dan opini tanpa penanda.

Berikut adalah contoh penulisan sederhana yang telah memuat 5W 1H, 

Desa Suka Maju Kembangkan Produk Singkong untuk Tingkatkan Pendapatan Warga

Desa Suka Maju mulai mengembangkan produk olahan singkong sebagai salah satu upaya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi kelompok perempuan desa.

Kegiatan pengembangan produk tersebut dilaksanakan pada 5 September 2026 di Desa Suka Maju Kecamatan Harapan Warga dengan melibatkan pemerintah desa, kelompok perempuan, masyarakat, dan Pendamping Desa.

Selama ini singkong lebih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah. Kondisi tersebut mendorong masyarakat mencoba mengembangkan produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Dalam prosesnya, warga mendapatkan pendampingan mulai dari pengolahan bahan, pengemasan, hingga pengenalan pemasaran produk. Tiga jenis produk kemudian diuji untuk mengetahui penerimaan konsumen.

"Melalui pengolahan ini kami ingin agar hasil pertanian tidak hanya dijual sebagai bahan mentah. Warga bisa mendapatkan nilai tambah dari proses pengolahan," ujar salah satu anggota kelompok perempuan.

Pengembangan produk tersebut sekaligus membuka peluang pemanfaatan media digital untuk memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas.

Bagi masyarakat, kegiatan ini tidak hanya menghasilkan produk baru, tetapi juga memberikan pengalaman dalam mengembangkan usaha secara bersama-sama. Ke depan, kelompok perempuan desa berencana meningkatkan kualitas kemasan, memperluas pemasaran, dan mengembangkan variasi produk.

Cerita tersebut menunjukkan bahwa praktik baik desa tidak hanya terletak pada kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga pada proses, partisipasi masyarakat, perubahan, dan pembelajaran yang dihasilkan serta keterangan tempat kejadian yang jelas, lebih lengkap disertai locus provinsi akan lebih bagus agar mudah dipahami pembaca secara luas.

Sebelum artikel dipublikasikan, lakukan pemeriksaan dengan contreng  

WHAT ☐ Apakah peristiwa utama sudah jelas?

WHO ☐ Apakah semua nama dan peran penting sudah benar?

WHEN ☐ Apakah tanggal dan waktu sudah benar?

WHERE ☐ Apakah lokasi sudah jelas?

WHY ☐ Apakah alasan dan konteks kegiatan sudah dijelaskan?

HOW ☐ Apakah proses dan hasil sudah dijelaskan?

VERIFIKASI ☐ Apakah fakta telah diperiksa?

DOKUMENTASI ☐ Apakah foto sesuai dengan artikel?

BAHASA ☐ Apakah tulisan mudah dipahami? 

DAMPAK ☐ Apakah pembaca mengetahui manfaat atau pembelajaran dari cerita?

Dari semua uraian hal penting yang harus TPP laukan adalah action bukan menunggu mahir untuk menulis artikel pemberitaan, langkah alur sederhanya adalah sebagai berikut:

TEMUKAN → CATAT → TANYAKAN → VERIFIKASI → SUSUN → TULIS → EDIT → PUBLIKASIKAN

Semoga tulisan singkat ini dapat membuka wawasan kita dalam memulai untuk menulis dan memberitakan kerja-kerja pendampingan sesuai standart Penulisan Pemberitaan dan menjadikan pesan mudah dipahami oleh pembaca. 15/09/2016

Oleh: Wahyu Hananto Pribadi, S.Sn , TAPM Bidang Humas dan Media Informasi 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar