Tenaga Pendamping Profesional... Bangun Desa Bangun Indonesia... Desa Terdepan Untuk Indonesia

Kamis, 11 Juni 2026

PENGUKUHAN PEMUDA BANGUN DESA BANGUN INDONESIA

JAKARTA, Bertempat di Oproom Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Kamis 11 Juni 2026 diselenggarakan acara Pengukuhan Pemuda Bangun Desa Bangun Indonesia oleh Menteri Desa H. Yandri Susanto, SPt. MPd. 
 
Acara dihadiri oleh oleh Menteri Desa PDT, H. Yandri Susanto, S. Pt., M.Pd. , Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, H. Raffi Farid Ahmad , Sekretaris Jenderal Kemendes PDT, Dr. Taufik Madjid, S.Sos, M .Si , Kepala BPSDM PMDDT Dr. Agustomi Masik, M.Dev.Plg. , Bupati Serang Hj. Ratu Rachmatuzakiyah, S.Pd., M.M.

Para pemuda pemudi ini adalah peserta terpilih untuk magang ke Jepang. Sebelum berangkat para calon peserta dibekali pendidikan bahasa, keterampilan dari  LPK dan pendidikan nasionalisme kesamaptaan. Hal ini dimaksudkan untuk membekali para peserta untuk mampu beradabtasi dengan tempat kerja baru, negara yang jauh dari negara asal dan kelak bila telah selesai magang kembali ke Indonesia dengan membawa bekal keterampilan dan pengetahuan yang dapat dikembangkan di desa-desa negaranya. 


Kepala BPSDM PMDDT Dr. Agustomi Masik, M.Dev, Plg menyampaikan laporan bahwa kegiatan ini  dalam rangka membangun manusia Indonesia seutuhnya, ini adalah kolaborasi berbagai pihak untuk membentuk SupeÅ• Tim sebagai upaya meningkatkan kualitas masyarakat desa.  Ini adalah bentuk utk meningkatkatkan kopentensi masyarakat desa, saat ini kita masih hanya mampu meningkatkan kompentensi 4000 per tahun sementara desa di Indonesia terdapat 75266 desa. 

Berdasar data 70% pemuda yang pulang dari Jelang pulang ke Indonesia mampu utk menjadi pengusaha. Pemuda yang akan dikukuhkan sejumlah 200 pemuda dari 15 provinsi yg diharapkan dapat memberi dampak positif.  Tahun ini Universitas Siber Asia akan memberikan 500 beasiswa S1 bagi pemuda Indonesia. 

Dalam acara ini diselenggarakan penandatangan nota kesepahaman antara Universitas Siber Asia dengan Kementerian Desa dan daerah Tertinggal Republik Indonesia.
Hadir dalam acara Utusan Khusus Presiden Rafi Ahmad menyampaikan pesan dari Bapak Presiden Prabowo bahwa beliau mengapresiasi kegiatan membangun pemuda. Utusan Presiden juga mengapresiasi totalitas Menteri Desa dalam Membangun Desa.  Pengukuhan hari ini adalah titik awal untuk menciptakan pemimpin penggerak dan inovator Indonesia ke depan. 

Menteri Desa dalam sambutan arahannya  menyampaikan pesan bahwa yang berdiri disini kelak akan menjadi pemimpin di masa depan. Kemendesa melakukan kerjasama dengan parapihak utuk menjngkatkan sumberdaya manusia yang unggul melalui Pengukuhan Pemuda Bangun Desa Bangun Indonesia.. "Karena adik-adik adalah duta utk mengenyam pendidikan di negara yang maju maka jaga Negara yang kita cintai dengan menjaga nama baik Indonesia ketika berada di Jepang dengan belajar tekun dan menunjukkan bahwa yang berkesempatan berangkat ke Jepang adalah pemuda pilihan dan dapat menularkan hal-hal yang positif kepada para pemuda yang lain. 

Sepulang dari Jepang akan kita buatkan forum sebagai organisasi tindak lanjut untuk mengembangkan potensi 12 aksi prioritas bangun desa bangun Indonesia. Ketika pulang dari Jepang yang berangkat saat ini harus bukan cari kerja tetap menciptakan lapangan kerja. Acara disemangati dengan yel yel menggunakan bahasa Jepang. #BangunDesaBangunIndonesia Desa Terdepan Untuk Indonesia 11/06/2026

 Oleh:Bidang Pengelolaan Data dan Informasi TPP Pusat


TPP KEPRI: TPP Kemendes PDT Provinsi Riau Siap Kawal BUMDES

KEPRI, TANJUNGPINANG : Tenaga Pendamping Profesional (TPP) atau Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menegaskan komitmen penuhnya untuk menjadi motor penggerak kemandirian desa. Dalam era pembangunan modern saat ini, sinergi yang kokoh antara jajaran pemerintah daerah dan para pendamping desa dilapangan dinilai sebagai instrumen paling krusial demi mengikis ketimpangan tata kelola administrasi sekaligus melejitkan potensi ekonomi dikawasan perdesaan.
Penegasan tersebut disampaikan secara langsung oleh Koordinator TAPM Provinsi Kepri, Muhamad Irfan, saat bertindak sebagai narasumber dalam agenda Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Peningkatan Kapasitas Aparatur dan Kelembagaan Desa se-Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2026. Acara tersebut dihelat di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur Kepri, Dompak, Tanjungpinang, Senin (25/5/2026). Forum strategis ini diinisiasi oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DPMD-Dukcapil) Kepri dengan mengusung tema besar “Integrasi Tiga Pilar Pembinaan: Mewujudkan Tata Kelola Administrasi Akuntabel, Kerjasama Strategis, dan Lembaga Desa yang Berdaya Saing.”
 
Di hadapan ribuan peserta yang hadir baik secara fisik maupun virtual, Muhamad Irfan memaparkan visi besar pendampingan desa yang selaras dengan instruksi Kementerian Desa. Ia menekankan bahwa seluruh jajaran TPP di Bumi Segantang Lada siap memasang badan dan mencurahkan seluruh kapasitasnya untuk mengawal berbagai kebijakan prioritas.

"Tenaga Pendamping Profesional se-Kepulauan Riau berada dalam posisi siap tempur untuk terus berkolaborasi erat dengan jajaran pemerintah, baik ditingkat provinsi, kabupaten, hingga ketingkat desa. Tugas dan fungsi yang diamanahkan kepada kami bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah tanggung jawab besar untuk melakukan fasilitasi, pengawasan, serta pendampingan melekat demi mewujudkan cita-cita besar pembangunan yang ada di desa," ujar Irfan dengan tegas. 
Lebih lanjut, Irfan merinci instruksi dari Menteri Desa terkait fokus kerja para pendamping dilapangan. Sesuai dengan arahan pusat, Pendamping Desa kini memiliki kewajiban mutlak untuk menguasai dan mengawal program-program strategis nasional secara mendalam. Tiga pilar utama yang wajib diakselerasi kinerjanya adalah optimalisasi Koperasi Desa (Kopdes), penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa), serta pelaksanaan program strategis nasional Membangun Bersama Guna (MBG).

Menurut Irfan, dengan menempatkan Pendamping Desa sebagai garda terdepan di tengah-tengah masyarakat, proses transformasi ekonomi dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran. Pendamping tidak boleh pasif, melainkan harus aktif mendeteksi kendala, mencarikan solusi tata kelola, dan mendorong lahirnya inovasi usaha desa. Fokus utamanya adalah mendongkrak pendapatan riil masyarakat, memangkas angka kemiskinan ekstrem, dan memicu lahirnya kemandirian fiskal desa agar tidak melulu bergantung pada kucuran dana stimulan pusat. Selanjutnya Klik DAERAH
 

Senin, 08 Juni 2026

TPP YOGYAKARTA: Kesadaran Menulis Jejak Pendampingan

Melalui tulisan, pengalaman, gagasan, dan pembelajaran dari lapangan dapat terus hidup, dibaca, dan dimanfaatkan oleh generasi pendamping berikutnya. 
Oleh: Murtodo, SH. MPd, Koordinator TPP Provinsi DI Yogyakarta

Di lapangan, seorang pendamping desa sering kali dihadapkan pada berbagai aktivitas yang padat. Mulai dari menghadiri musyawarah, mendampingi kader, memfasilitasi kegiatan masyarakat, hingga membantu penyelesaian berbagai persoalan di tingkat desa. Di tengah kesibukan tersebut, kegiatan menulis sering dianggap sebagai pekerjaan administratif yang sekadar memenuhi kewajiban laporan.

Padahal, menulis kerja-kerja pendampingan memiliki makna yang jauh lebih besar. Menulis bukan hanya tentang mencatat apa yang telah dilakukan, tetapi juga menjadi media pembelajaran, refleksi, dan sarana berbagi pengalaman yang berharga bagi banyak pihak.

Setiap Pendamping Adalah Sumber Pengetahuan

Setiap hari, pendamping menyaksikan berbagai praktik baik, inovasi lokal, tantangan pembangunan, hingga kisah-kisah inspiratif dari masyarakat. Semua pengalaman tersebut sesungguhnya merupakan sumber pengetahuan yang sangat kaya.

Sayangnya, banyak pengalaman berharga yang hilang begitu saja karena tidak terdokumentasikan. Padahal, pengalaman yang berhasil di satu desa dapat menjadi inspirasi bagi desa lain. Sebaliknya, kendala yang pernah dihadapi juga dapat menjadi pelajaran agar tidak terulang di tempat lain.

Melalui tulisan, pengalaman lapangan yang semula hanya tersimpan dalam ingatan dapat berubah menjadi pengetahuan yang bisa diwariskan dan dipelajari bersama. Hal ini juga menegaskan bahwa kapasitas memori ingatan seseorang sangatlah terbatas, sehingga menjadi sangat penting untuk dituangkan dalam bentuk tulisan. Dengan demikian suatu saat nanti kita tidak disajikan dengan cerita-cerita yang tidak bisa diverifikasi karena tidak adanya jejak digital pendampingan.

Menulis Adalah Bentuk Refleksi

Seorang pendamping yang menulis sebenarnya sedang melakukan refleksi atas pekerjaannya sendiri. Saat menuliskan sebuah kegiatan, pendamping akan kembali mengingat proses yang telah dilalui, menilai keberhasilan yang dicapai, serta mengidentifikasi berbagai kekurangan yang masih perlu diperbaiki.

Proses refleksi ini sangat penting karena membantu pendamping untuk terus berkembang. Sering kali kita baru menyadari makna sebuah peristiwa setelah mencoba menuangkannya dalam bentuk tulisan. Menulis membuat seorang pendamping tidak hanya bekerja, tetapi juga belajar dari pekerjaannya sendiri.

Dari Data Menjadi Cerita Pembelajaran

Laporan pendampingan biasanya berisi data, angka, dan capaian kegiatan. Namun, di balik data tersebut terdapat cerita yang menarik untuk diangkat. Misalnya, angka penurunan stunting di suatu desa akan lebih bermakna ketika disertai kisah tentang kerja sama kader, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan keluarga sasaran. Demikian pula keberhasilan pembangunan desa akan lebih menginspirasi jika diceritakan proses perjuangan masyarakat dalam mewujudkannya.

Tulisan yang baik mampu mengubah data menjadi cerita pembelajaran yang mudah dipahami dan menggugah semangat pembaca.

Membangun Budaya Belajar dalam Pendampingan

Organisasi atau lembaga yang kuat selalu memiliki budaya belajar yang baik. Salah satu cirinya adalah adanya dokumentasi pengetahuan yang terus berkembang.

Ketika para pendamping aktif menulis pengalaman lapangan, sesungguhnya mereka sedang membangun bank pengetahuan bersama. Tulisan-tulisan tersebut dapat menjadi referensi bagi pendamping baru, bahan diskusi dalam forum pembelajaran, maupun sumber inspirasi untuk pengembangan program di masa depan. Budaya menulis juga mendorong terciptanya tradisi berbagi pengetahuan yang sehat dan produktif.

Salah satu alasan yang sering muncul adalah merasa belum mampu menulis dengan baik. Padahal, tulisan yang bermanfaat tidak selalu harus panjang atau menggunakan bahasa yang rumit. Mulailah dari hal-hal sederhana: mencatat pengalaman menarik, menuliskan tantangan yang dihadapi, mendokumentasikan praktik baik, atau membuat refleksi singkat setelah kegiatan berlangsung.

Seiring waktu, kemampuan menulis akan berkembang melalui proses yang berkelanjutan. Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai.

Meninggalkan Jejak yang Bermakna

Kerja pendampingan pada hakikatnya adalah kerja pemberdayaan manusia. Dampaknya mungkin tidak selalu terlihat secara instan, tetapi akan meninggalkan jejak yang panjang bagi kehidupan masyarakat. Tulisan menjadi salah satu cara untuk memastikan jejak tersebut tidak hilang ditelan waktu. Melalui tulisan, pengalaman, gagasan, dan pembelajaran dari lapangan dapat terus hidup, dibaca, dan dimanfaatkan oleh generasi pendamping berikutnya.

Karena itu, setiap pendamping perlu memandang kegiatan menulis bukan sebagai beban administrasi, melainkan sebagai bagian dari proses belajar dan berbagi. Apa yang ditulis hari ini mungkin akan menjadi inspirasi, solusi, atau bahkan pijakan perubahan bagi banyak orang di masa depan.

Menulis bukan sekadar melaporkan pekerjaan. Menulis adalah mengabadikan pembelajaran, menyebarkan inspirasi, dan merawat pengetahuan agar terus memberi manfaat. Selanjutnya Klik DAERAH