"Kepala desa harus mampu membangun kepemimpinan kolektif. Pemerintahan desa tidak boleh bertumpu pada satu figur saja. Sekretaris desa, perangkat desa, BPD, dan lembaga kemasyarakatan harus diberdayakan sebagai tim. Kepemimpinan yang kolaboratif akan mengurangi risiko personalisasi kekuasaan dan memperkuat keberlanjutan program."
Oleh : Sugito, S.Sos, M.H., Staf Ahli Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Bidang Hubungan Antar Lembaga
Pasal 18B ayat 2 UUD 1945 menjadi dasar pengaturan tentang Desa yakni Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Artinya meletakkan Desa sebagai fondasi bagi berdirinya Republik ini, mengingat 91% wilayah Indonesia berstatus Desa (BPS,2024) selebihnya berstatus kelurahan. Dari desa, denyut kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan bahkan politik Indonesia bermula. Di sinilah identitas bangsa tumbuh, nilai gotong royong dipraktikkan, dan kemandirian diuji dalam realitas paling nyata. Kehadiran pemerintah desa, khususnya posisi kepala desa menjadi sangat strategis. Kepala desa adalah pemimpin terdekat dengan rakyat, pengelola anggaran publik yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar warga, sekaligus figur simbolik yang merepresentasikan negara di tingkat paling bawah.
Desa dalam Arsitektur Negara
Sejak lahirnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, desa memperoleh pengakuan dan kewenangan yang jauh lebih luas. Desa tidak lagi sekadar objek pembangunan, tetapi subjek yang diberi mandat mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya berdasarkan hak asal-usul dan kewenangan lokal berskala desa. Undang-undang ini menegaskan bahwa desa memiliki ruang untuk berinovasi, membangun ekonomi, memperkuat kelembagaan, serta mengelola anggaran yang signifikan melalui Dana Desa. Setelah 10 tahun (sejak tahun 2015), dana desa diberikan sebagai wujud rekognisi negara terhadap desa, guna mendukung pencapaian tujuan pembangunan yang dicita-citakan oleh UU Desa, berbagai kemajuan yang telah didapatkan. Kebijakan Dana Desa telah mengubah wajah banyak desa. Infrastruktur dasar membaik, akses jalan meningkat, sarana air bersih dan sanitasi berkembang, serta tumbuhnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di berbagai wilayah. Data statistik Kemendesa menunjukkan bahwa sampai dengan awal tahun 2025, telah terbangun jalan desa sepanjang 366.080 km, jembatan 1.947.785 meter, pasar desa 14.752 unit. Sementara dalam lembaga ekonomi desa telah terbentuk 43.245 unit kegiatan yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa. Sedangkan untuk meningkatkan pertanian telah terbangun saluran irigasi sebanyak 611.740 unit. Dana Desa juga menyasar kegiatan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa, antara lain untuk kegiatan polindes sebanyak 27.015 unit, posyandu sebanyak 46.611 unit, PAUD terdiri dari 96.163 kegiatan, dan penyediaan air bersih sebanyak 1.775.479 unit. Selain itu Dana Desa juga digunakan untuk membangun sarana olah raga, 34.444 unit (Resntra Kemendesa, 2025-2029). Tentu Kepala desa berada di garis depan dalam mengoperasionalkan kebijakan tersebut.
Kemajuan lain dari pembangunan desa ditandai dengan adanya capaian secara statistik bahwa saat ini tingkat perkembangan desa terus meningkat. Desa Mandiri naik dari 174 pada tahun 2016 menjadi 20.503 pada tahun 2025. Desa berstatus maju tumbuh dari 3.609 menjadi 23.578, sementara desa tertinggal dan sangat tertinggal turun dari 48.176 menjadi 9.367 (Kemendesa,2025). Kehadiran dan peran Kepala Desa tidak bisa dilepaskan dalam capaian pembangunan tersebut. Di sinilah makna “ujung tombak” menjadi nyata. Kepala desa menjadi aktor utama yang menerjemahkan visi nasional ke dalam aksi lokal. Kepala Desa harus mampu memahami regulasi pusat, mengintegrasikannya dengan perencanaan daerah, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan riil masyarakat desa.
Ujung Tombak: Agen Transformasi Sosial-Ekonomi
Sebagai ujung tombak, kepala desa memikul tiga peran besar. Pertama, sebagai pemimpin administratif. Kepala desa bertanggung jawab atas perencanaan pembangunan desa, pengelolaan keuangan, pelaporan, serta koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan provinsi bahkan pusat. Kemampuan manajerial menjadi krusial. Tanpa kapasitas tata kelola yang baik, potensi desa tidak akan terkelola optimal. Kedua, sebagai pemimpin sosial. Kepala desa adalah figur yang menjadi rujukan penyelesaian konflik, mediator sengketa tanah misalnya, penggerak gotong royong, hingga penjaga harmoni antarwarga. Dalam masyarakat desa yang relasional, legitimasi sosial sering kali lebih menentukan dibanding sekadar legitimasi formal. Ketiga, sebagai motor ekonomi lokal. Kepala desa dituntut mampu membaca potensi wilayah dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, apakah desa pertanian, peternakan, perikanan, atau pariwisata dan sebagainya. Dalam peran ini Kepala Desa dituntut memiliki kemampuan mengorkestrasi kelembagaan ekonomi, menguatkan kelompok tani, UMKM, koperasi, dan BUMDes. Dalam konteks ini, desa bukan hanya tempat tinggal, tetapi ruang produksi dan inovasi. Desa adalah ruang kehidupan dan penghidupan, tempat bertempat tinggal dan melangsungkan kehidupan dari generasi ke generasi. Jika kepala desa mampu menjalankan tiga fungsi ini dengan integritas dan visi, maka kepala desa benar-benar menjadi ujung tombak transformasi desa menuju kemandirian.
Ujung Tombok: Beban dan Risiko yang Mengintai
Namun seringkali realitas tidak selalu ideal. Dalam implementasinya, kepala desa sering dihadapkan oleh kondisi yang tidak linier. Ketegangan, ketidaksinkronan kebijakan dengan dinamika masyarakat, memaksa Kepala desa menguras energi lebih, bahkan mempertaruhkan berbagai sumber daya yang dimiliki. Kepala desa dengan latar belakang SDM yang beragam, dihadapkan pada dinamika yang sering tidak ideal. Di sinilah, kepala desa bisa menjadi “ujung tombok” , yakni menjadi pihak pertama yang disalahkan ketika terjadi persoalan. Pertama, kompleksitas regulasi. Kepala desa harus memahami berbagai aturan turunan, mulai dari peraturan menteri hingga kebijakan teknis yang sering berubah. Ketika terjadi kekeliruan administrasi, kepala desa yang paling rentan berhadapan dengan aparat penegak hukum.
Kedua, tekanan politik lokal. Pemilihan kepala desa yang kompetitif sering meninggalkan residu konflik sosial. Polarisasi pasca pemilihan dapat memengaruhi stabilitas pemerintahan desa. Kepala desa harus bekerja di tengah ekspektasi pendukung dan resistensi kelompok yang kalah. Resistensi ini bahkan bisa berlangsung sepanjang kepala desa menjabat.
Ketiga, beban akuntabilitas publik. Dengan keterbukaan informasi yang semakin luas, masyarakat menuntut transparansi. Sedikit saja kesalahan dalam pengelolaan Dana Desa dapat memicu kecurigaan. Kepala desa berada di titik rawan antara tuntutan percepatan pembangunan dan kepatuhan prosedural.
Keempat, kapasitas yang belum merata. Tidak semua kepala desa memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman administrasi yang memadai. Ketika kewenangan meningkat drastis tanpa penguatan kapasitas yang seimbang, risiko maladministrasi menjadi tinggi. Adanya kepala desa yang terpaksa harus berhadapan dengan hukum, tidak semuanya karena faktor kesengajaan, tetapi bisa jadi karena ketidaktahuan atau ketidakmampuan memahami dinamika aturan dan kebijakan yang ada. Tanpa bermaksud membela bagi mereka yang dengan kesengajaan melakukan pelanggaran hukum, harus diakui bahwa beragam latar belakang kepala desa ikut mewarnai kondisi ini.
Pada situasi dan posisi diatas, kepala desa bukan hanya ujung tombak, tetapi juga menjadi ujung tombok, yakni yang pertama menerima tekanan dari atas (pemerintah pusat dan daerah) dan dari bawah (masyarakat). Selain hal tersebut, ujung tombok juga dapat terjadi ketika kepala desa harus mampu mencari solusi untuk mencukupi berbagai kegiatan pembangunan dan sosial yang sumber daya desanya terbatas.
Antara Integritas dan Inovasi
Untuk menghindari jebakan menjadi “ujung tombok”, kepala desa perlu membangun dua fondasi yaitu integritas dan inovasi. Integritas adalah benteng utama. Tata kelola keuangan harus transparan, partisipatif, dan terdokumentasi dengan baik. Musyawarah desa bukan sekadar formalitas, tetapi ruang deliberasi nyata. Publikasi APBDes dan realisasi anggaran harus mudah diakses warga. Kemudian Inovasi adalah sebagai daya dorong. Kepala desa perlu berani keluar dari pola rutin administratif. Seperti digitalisasi pelayanan, pemetaan potensi berbasis data, serta kemitraan dengan perguruan tinggi dan sektor swasta dapat menjadi jalan memperkuat daya saing desa. Pendekatan pentahelix menjadi salah satu solusinya.
Kepala desa harus mampu membangun kepemimpinan kolektif. Pemerintahan desa tidak boleh bertumpu pada satu figur saja. Sekretaris desa, perangkat desa, BPD, dan lembaga kemasyarakatan harus diberdayakan sebagai tim. Kepemimpinan yang kolaboratif akan mengurangi risiko personalisasi kekuasaan dan memperkuat keberlanjutan program. Keterlibatan seluruh elemen masyarakat desa menjadi keharusan, sebagai representasi kehendak bersama.
Perlunya memperkuat Sistem, Bukan Sekadar Figur
Menjadikan kepala desa hanya sebagai ujung tombak tanpa memperkuat sistem adalah kekeliruan. Negara harus memastikan adanya pendampingan, pelatihan berkelanjutan, penyederhanaan regulasi, serta perlindungan hukum yang adil bagi kepala desa yang bekerja dengan itikad baik. Desa adalah ruang strategis bagi masa depan Indonesia. Jika kepala desa diperkuat kapasitas dan integritasnya, maka ia akan benar-benar menjadi ujung tombak kemajuan. Namun jika ia dibiarkan sendirian menghadapi kompleksitas sistem dan tekanan politik, maka ia akan mudah menjadi ujung tombok dari kegagalan kebijakan yang lebih struktural.
Di tengah tuntutan pembangunan yang semakin cepat dan kompleks, kepala desa memerlukan lebih dari sekadar mandat. Pemerintah Desa membutuhkan ekosistem tata kelola yang sehat, dukungan kebijakan yang konsisten, dan kepercayaan masyarakat yang dijaga bersama. Karena pada akhirnya, masa depan Republik ini tidak hanya ditentukan di ibu kota, tetapi juga dari pelosok negeri yang bernama desa, tempat seorang kepala desa berdiri di tengah-tengah warganya, antara menjadi ujung tombak perubahan atau ujung tombok persoalan. 23/02/2026



Setuju Pak PJ
BalasHapus