Engagement yang memberdayakan adalah yang mengajak berpikir solutif, menyatukan kekuatan, dan memberi arti.
Konsep dan Teori Engagement: Landasan Pemikiran
Secara konseptual, engagement pertama kali diuraikan oleh Kahn (1990) sebagai kondisi di mana individu mengekspresikan diri secara fisik, kognitif, dan emosional dalam menjalankan peran atau aktivitasnya; bukan sekadar hadir, tetapi terlibat sepenuh hati dan pikiran¹. Schaufeli & Salanova (2007) kemudian mempertegasnya sebagai keadaan mental yang positif, ditandai dengan semangat, dedikasi, dan penyerapan yang mendalam—berbeda sekaligus lawan dari rasa lelah atau apatis². Dalam konteks komunikasi dan pembangunan, teori Use and Gratifications dari Elihu Katz dan Michael Gurevitch (1959) menjelaskan bahwa masyarakat tidak hanya pasif menerima informasi, tetapi secara aktif memilih dan menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan akan pengetahuan, interaksi, dan partisipasi³. Sementara itu, Manuel Castells dalam The Network Society (1996) meletakkan dasar bahwa struktur sosial masa kini dibangun di atas jaringan informasi, sehingga keterlibatan di ruang digital menjadi syarat keberadaan dan pengaruh setiap komunitas, termasuk desa⁴.
Engagement dalam pembangunan berarti hubungan timbal balik: mendengar, berdialog, bertukar gagasan, dan bergerak bersama. Macey & Schneider (2008) menegaskan bahwa ini bukan sekadar kehadiran, melainkan inisiatif, ketahanan, dan usaha lebih demi tujuan bersama⁵. Di masa lalu, pendampingan pembangunan desa sering kali bersifat satu arah, terhambat jarak dan biaya. Sosmed mengubahnya menjadi model partisipatif, di mana warga menjadi subjek aktif, bukan objek penerima program semata⁶.
Dampak Engagement Terhadap Kemajuan Ekonomi Masyarakat
Pembangunan desa yang sejati tidak hanya berbicara tentang fisik, tetapi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan. Di sini engagement berperan sangat nyata. Robert Putnam dalam Bowling Alone (2000) menjelaskan bahwa keterlibatan dan jaringan sosial—yang kini diperluas lewat media sosial—adalah bentuk modal sosial, yang terbukti kuat mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat⁷. Ketika warga, pendamping, dan pembeli saling terhubung, nilai ekonomi muncul dari kepercayaan, pertukaran pengetahuan, dan akses pasar yang lebih luas.
Penelitian menunjukkan bahwa kelompok masyarakat yang memiliki tingkat keterlibatan tinggi memiliki pendapatan rata-rata hingga 30–40% lebih tinggi dibandingkan yang rendah partisipasinya, karena kemampuan berkolaborasi, berbagi peluang, dan berinovasi bersama⁸. Di desa, banyak potensi besar—pertanian, kerajinan, kuliner, wisata—yang selama ini terkurung karena terputus dari pasar. Melalui sosmed, engagement menjadi jembatan: mempromosikan produk, menerima umpan balik, meningkatkan kualitas, dan membangun merek lokal. Hal ini sejalan dengan pandangan Sen (1999) dalam Development as Freedom, bahwa pembangunan sejati adalah perluasan kemampuan dan akses masyarakat untuk berpartisipasi dan menikmati hasilnya⁹.
Contoh nyata: desa yang aktif berinteraksi dan mempromosikan produknya di media sosial mampu meningkatkan omzet usaha warga hingga dua kali lipat, membuka lapangan kerja baru, dan mengurangi ketergantungan pada bantuan luar¹⁰. Engagement di sini bukan sekadar pamer, melainkan proses belajar bersama: memahami kebutuhan pasar, meningkatkan standar, dan membangun kemandirian.
Selain ekonomi, engagement juga menguatkan tata kelola dan budaya. Informasi anggaran, rencana kerja, dan hasil pembangunan yang dibuka lewat sosmed menciptakan transparansi dan akuntabilitas. Hal ini selaras dengan teori Akuntabilitas Sosial, di mana keterlibatan publik menjamin pembangunan berjalan sesuai kebutuhan warga¹¹. Di sisi lain, budaya dan kearifan lokal yang didokumentasikan dan dibagikan menjadi daya tarik sekaligus kebanggaan, memperkuat identitas desa di tengah arus globalisasi.
Tantangan: Engagement yang Membangun vs Gaduh Tanpa Solusi
Memilih berinteraksi di sosmed membawa tantangan. Ruang digital bebas, tempat benar-salah, niat baik-buruk bercampur. Di sinilah esensi engagement diuji. Menurut komunikator ahli James Grunig, komunikasi publik yang baik harus berbasis pada dialog, bukan sekadar penyebaran pesan; harus memberikan nilai, bukan sekadar kritik¹². Engagement yang memberdayakan adalah yang mengajak berpikir solutif, menyatukan kekuatan, dan memberi arti. Ia menolak budaya gaduh yang hanya mencela atau mengoreksi tanpa memberi jalan keluar, sebagaimana semangat: “Bersibuklah membangun kemanfaatan untuk semua, bukan gaduh mencela dan mengoreksi tanpa mampu memberi arti dan solusi.”
Keterlibatan yang positif mengubah sosmed dari tempat debat tak berujung menjadi ruang belajar, kerja sama, dan kreativitas. Ia membangun kesadaran bahwa setiap suara dan setiap konten bisa menjadi kontribusi nyata bagi kemajuan desa.
Penutup: Pilihan Sikap untuk Masa Depan
Pada akhirnya, engagement di era sosmed adalah sebuah pilihan sikap. Pilihan untuk hadir, peduli, dan berkontribusi. Pilihan untuk tidak membiarkan desa tertinggal, melainkan mengangkatnya sejajar dengan kemajuan zaman. Ketika interaksi di media sosial diarahkan untuk mendampingi dan memberdayakan, maka ia menjadi kekuatan dahsyat yang mampu menggerakkan pembangunan desa yang berkelanjutan. Desa bukan lagi objek pembangunan, melainkan subjek utama yang tumbuh, berkembang, dan memberi manfaat bagi semua. Di ujung jari dan layar genggaman, kita memegang kekuatan untuk membangun kemanfaatan, menjaga kewarasan, dan mewujudkan rasa syukur atas kemajuan yang dibangun bersama. 29/05/2026
*) Bidang Pengelolaan Data dan Informasi TPP Pusat Kemendesa PDT RI
Catatan Kaki

Tidak ada komentar:
Posting Komentar