Oleh: Sugito, S.Sos., MH *)
Kemarin, 2 Februari 2026 Presiden RI, Bapak Prabowo Subianto memberikan pengarahan kepada seluruh jajaran pimpinan di Pemerintah Pusat (Kementerian dan Lembaga) dan Pemerintah Daerah (Gubernur, Bupati/Walikota dan jajaran Forkompimda) dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor. Dua jam lebih beliau memberikan arahan terkait berbagai program, kebijakan dan arah pembangunan yang ingin dicapai oleh Kabinet Merah Putih. Salah satu penekanannya adalah agar para pimpinan memiliki kepedulian terhadap sampah, perubahan iklim dan kebencanaan. Bahkan mendorong adanya Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik dan Indah). Gerakan ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas lingkungan, tata kota, dan hunian, termasuk di tingkat desa. Maka kebersihan dan pengelolaan sampah harus menjadi focus pemerintah daerah dan desa. Menghidupkan Kembali budaya “korve” kerja bakti dengan melibatkan seluruh aparatur dan siswa secara terorganisir dan rutin. Bahkan Prersiden juga menyoroti atap rumah dari “zeng” yang kurang mencerminkan kualitas hunian dan estetika pedesaan. Karena itu Presiden agar ada perubahan budaya perumahan dari berbahan zeng menjadi gerakan gentengisasi di desa.
Cukup tegas dan terang arahan Presiden untuk diterjemahkan ke dalam level operasional kebijakan dan program. Karena itu arahan ini menjadi tantangan bagi semua level pemerintahan termasuk pemerintah daerah dan desa. Desa menjadi bagian garda terdepan untuk kesuksesan dari arahan Bapak Presiden ini. Jika arahan ini dapat diterjemahkan dengan baik, maka persoalan-persoalan yang ada saat ini, bisa segera diatasi bahkan bukan hanya menyelesaian masalah tetapi juga bisa memberikan dampak positif bagi kemajuan desa.
Arahan Bapak Presiden ini mengingatkan saya kembali pada beberapa tahun yang lalu (2023) ketika saya mendampingi Komis V DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Bekasi tepatnya di Desa Bojongkulur yang sering menjadi langganan banjir setiap tahun. Namun ditangan para inovator desa, kondisi geografi ini tidak membuat mereka menyerah pada takdir, selalu ada peluang diantara masalah yang muncul.
Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor adalah desa yang berada diujung berbatasan dengan Kota Bekasi. Desa ini juga diapit oleh 2 sungai besar yakni sungai Cilengsi dan Cikeas. Karena itulah hampir setiap tahun banjir selalu menghinggapi Desa ini. Di sini ada 2 jenis banjir, yakni banjir setinggi atap dan setinggi pinggang tapi berdirinya di lantai 2. Begitu ilustrasi yg disampaikan Ketua Bumdes desa tersebut. Dari kondisi ini melahirkan kesadaran masyarakat pentingnya mengetahui sejak awal tanda-tanda akan banjir, agar tidak menimbulkan korban, atau bisa diminimalisir resikonya. Dari pemikiran ini melahirkan sistem peringatan dini berbasis masyarakat, yang diklaim pertama dan menjadi percontohan yang di endorse oleh BMKG dan BNPB. Pola kerjanya adalah dengan memasang CCTV di beberapa titik, baik di hulu sungai sampai hilir. Ada petugas yang ditunjuk dari masyarakat untuk memantau dan menginformasikan ketika ada tanda-tanda banjir ataupun situasi yang terjadi. Demikian juga pengurus, relawan dan warga bisa memantau lewat android. Pembiayaan operasionalnya ini dihimpun dari partisipasi warga. Untuk melengkapi kesiapsiagaan ini, desa juga memiliki 6 perahu karet yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk mengevakuasi warga terutama lansia, ibu hamil dan orang-orang yang diprioritaskan.
Adanya banjir dan sungai yang melewati Desa Bojongkulur ini, memunculkan pemikiran, bahwa banjir kan tidak setiap hari, sementara perahu karet nganggur, sungai dan bantaran kotor penuh sampah. Pada masa pandemi covid masyarakat tidak boleh keluar karena ada pembatasan (PPKM). Bagaimana caranya menciptakan ruang publik. Dari sinilah ide muncul, bantaran yang jadi tempat "jin buang anak" begitu penuturan ketua Bumdes mengambarkan kotornya bantaran tersebut. Dari hasil diskusi beberapa tokoh masyarakat, disepakati untuk memanfaatkan bantaran tersebut sebagai ruang publik sekaligus tempat memanfaatkan perahu karet tadi yang dinamakan wisata susur sungai dengan jalur start yang disebut dermaga 6. Di sini juga dibuatkan gasebo dan tempat untuk sekedar kongkow-kongkow sambil minum kopi atau menikmati kuliner lainnya, ataupun juga antri dan persiapan susur sungai. Ada catatan menarik dalam desa wisata ini. Yang pertama, di sini tidak menyediakan stand warung/resto khusus. Namun di setiap meja ada barcode, bagi pengunjung yang ingin memesan makanan atau minuman cukup menggunakan android dan scan barkode akan muncul daftar menu dan nama penyedianya. Tinggal memesan sesuai selera, maka akan segera ada yang datang dengan membawa menu yang telah dipesan. Warung atau dapurnya cukup di rumah masing-masing. Paling tidak ada 27 rumah tangga/warga yang tergabung sebagai penyedia menu di desa wisata ini. Ide cerdas memanfaatkan teknologi.
Atraksi utama desa wisata ini adalah susur sungai Cikeas dengan panjang 5 km atau waktu tempuh 1 jam 15 menit. Dengan tarif tiket 95 ribu rupiah per orang, pengunjung bisa menikmati sensasi susur sungai. Sambil susur sungai, juga wisatawan diajak untuk peduli lingkungan dengan memungut sampah di sepanjang jalur sungai. Sampah yang terkumpul, pada titik finish sampah tadi dihimpun untuk selanjutnya dikirim ke bank sampah desa, dan diberikan reward kepada wisatawan berupa sovenir atau makanan kecil sebagai apresiasi atas kepeduliannya terhadap kebersihan sungai.
Atas inovasi dan kegigihannya mengembangkan potensi wisata ini, pada tahun 2022 mendapatkan apresiasi sebagai juara 1 Desa wisata kategori rintisan tingkat Kabupaten Bogor. Sedangkan inovasinya dalam penanganan dan mitigasi bencana banjir "sistem peringatan dini berbasis masyarakat" mendapat apresiasi dari BMKG dan BNPB sebagai percontohan praktek baik, dan akan dikembangkan ke daerah lain. Karena itu desa wisata ini juga akan dikembangkan pada edukasi Sistem mitigasi bencana banjir berbasis masyarakat. Selain mereka belajar juga bisa menikmati sensasi alam dan kuliner yang ada di desa Bojongkulur. Saya waktu itu mengusulkan tema brandingnya "DESA WISATA EDUKASI PEDULI LINGKUNGAN". Semoga semakin menginspirasi bagi desa-desa lain, dan semakin membuktikan bahwa tidak ada desa yang miskin, yang ada adalah desa belum menemukenali potensi dan aset yang dimiliki.
*) Sugito, S.Sos. , MH Staf Ahli Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Bidang Hubungan Antar Lembaga

Tidak ada komentar:
Posting Komentar