Bantul bukan sekadar hamparan sawah dan jajaran pantai selatan. Bagi saya, ia adalah detak jantung yang harus dijaga agar tetap stabil. Ada sebuah sunyi yang berbeda ketika saya menatap peta Kabupaten Bantul di meja kerja saya. Di sana, 75 Kalurahan bukan sekadar batas koordinat, melainkan kumpulan ribuan nasib yang bergantung pada ketajaman sebuah kebijakan. Memasuki tahun 2026, tanggung jawab sebagai TPP di tingkat kabupaten terasa kian menderu. Di tengah riuh rendah kebijakan efisiensi dan mandatori pusat, tugas saya adalah memastikan bahwa "pengetatan" tidak berubah menjadi "penyumbatan" bagi nadi kesejahteraan desa.
Bagi banyak orang, Dana Desa mungkin hanyalah deretan angka yang berbaris kaku dalam lampiran APBKal. Namun bagi saya, yang menghabiskan hari-hari melintasi batas-batas administrasi desa di Kabupaten Bantul, angka-angka itu adalah doa yang harus dijawab, harapan yang harus dirawat, dan terkadang, beban yang harus dipanggul dengan hati-hati.
Kini, tahun 2026 hadir dengan wajah yang lebih dingin. Kata "efisiensi" dan "mandatori" berdengung di koridor-koridor pemerintahan, menciptakan kecemasan halus di mata para pejuang desa. Di bawah langit Bantul yang tenang, saya menyadari bahwa tugas saya sebagai TPP di tingkat kabupaten bukan lagi sekadar menyosialisasikan Permendesa No. 16 Tahun 2025, melainkan menanamkan keyakinan bahwa di dalam ruang sempit efisiensi, inovasi tetap bisa bernapas.
Dialektika di Bawah Langit Akar Rumput : Peningkatan kapasitas sejati terkadang bukan lahir dari podium formal yang berjarak. Ia lahir dalam diskusi-diskusi "meja kayu" yang penuh asap kopi dan kejujuran. Di sanalah, kapasitas mereka (dan saya) bertumbuh melalui benturan realita dan regulasi.
Suatu senja, di sebuah gazebo sederhana di sudut kalurahan, diskusi berjenjang itu terjadi. Bukan sebagai rapat formal yang kaku, melainkan sebagai dialektika dari mereka yang mencintai desanya.
Lurah: "Bu, efisiensi ini seperti meminta kami menenun kain sutra dengan benang yang kian pendek. Mandatori pusat begitu ketat, sementara harapan warga di depan mata kami begitu luas. Di mana celah bagi kami untuk bernapas?"
Di sinilah peran saya bukan lagi sebatas TPP kabupaten, melainkan menjadi teman diskusi sekaligus strategi. Saya sadar bahwa jawaban dari kegelisahan itu adalah Presisi Saya tidak ingin menjawabnya dengan bahasa birokrasi yang dingin. Saya ingin ia melihat celah di antara tembok itu. Inilah saatnya peningkatan kapasitas terjadi. Bukan melalui slide presentasi yang kaku, melainkan melalui dialektika rasa. Selanjutnya Klik DAERAH
Oleh: Yuni Lestari, TPP Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta



Tidak ada komentar:
Posting Komentar